Pemanasan Global Ancam Terumbu Karang Dunia
Laporan yang dipublikasikan awal minggu ini menyebutkan, berbagai ancaman dapat berisiko bagi kelangsungan terumbu karang, semisal polusi, pencemaran, penangkapan ikan berlebihan, kenaikan temperatur, dan penggunaan sianida dan bom untuk menangkap ikan.
“Namun, pemanasan global yang disebabkan aktivitas manusia adalah penyebab utamanya,” seperti dikutip dalam laporan itu. Pasalnya, kenaikan temperatur secara mendadak–meski kecil–menyebabkan terumbu karang “memutih” karena terlepasnya ganggang dari jaringan terumbu.
Sebab itu, kepala program perubahan iklim WWF (World Wildlife Fund) Jennifer Morgan menilai, tiap pemerintah memiliki tanggung jawab yang besar untuk segera bertindak. “Tiap pemerintahan harus menjaga bumi dari pemanasan global, dengan menjaga temperatur tidak lebih dari 2 derajat Celsius sebagai batas maksimum,” ucapnya. Apalagi temperatur telah meningkat 0,6 derajat Celsius sejak 1800.
|
Penelitian Global Coral Reef Monitoring Network ini melibatkan 240 peneliti dari 98 negara, dan menerima dana serta dukungan dari PBB. Hasil penelitian ini telah menjadi pembicaraan di hari pertama Konvensi Perubahan Iklim di Buenos Aires, Argentina. Rencananya, konvensi yang disponsori PBB, dan dibuka sejak Senin (6/12) kemarin akan berlangsung selama 12 hari.
Laporan Global Coral Reef Monitoring Network juga menyebutkan, kepunahan terumbu karang akan merugikan ekonomi sebuah negara, seperti di Filipina dan Maldive. Sebab, kedua negara itu menjadikan terumbu karang sebagai makanan dan sumber penghasilan sektor pariwisata. Selain itu, kepunahan terumbu karang menyebabkan hilangnya daerah pesisir, dan membuka peluang terjadinya pengikisan yang disebabkan gelombang laut.
EL Nino
|
Terumbu karang seluruh dunia menghasilkan lebih dari US$ 30 juta setiap tahunnya. Menurut WWF, jumlah itu termasuk pendapatan dari sektor pariwisata dan industri perikanan. Di Kepulauan Carabian, misalnya. Menurut hasil penelitian, lebih dari 5 persen terumbu karang yang membalut daerah itu mengalami kepunahan setiap tahunnya. Fenomena itu akan mengakibatkan meningkatnya kerugian ekonomi hingga US$ 870 juta pada 2015. Jumlah kerugian itu sudah termasuk pengikisan yang disebabkan punahnya daerah pesisir alami yang sebelumnya dibentengi oleh terumbu karang.
Berdasarkan laporan penelitian, seperlima terumbu di seluruh dunia telah kehilangan 90 persen karang dan tidak dapat diperbaiki. Sementara itu, seperempat terumbu karang tengah berada pada titik kritis, karena kehilangan lebih dari 50 persen organisme. Seperempat terumbu karang lainnya tengah terancam, dengan lebih dari seperlimanya kehilangan karang. Hanya 30 persen terumbu karang dunia yang benar-benar tidak terancam.
Sebelumnya, kenaikan temperatur air laut akibat El Nino pada 1998 menyebabkan “mati”-nya 16 persen terumbu karang dunia. Gelombang itu menghangatkan permukaan air laut di pesisir barat Amerika Selatan dan memberi dampak bagi pola cuaca di belahan bumi lainnya. Analisis dari laporan itu menyebutkan, kerusakan terumbu karang akibat gelombang El Nino merupakan kerusakan serius dalam 1.000 tahun terakhir, dan diperkirakan hanya terjadi satu kali dalam 50 tahun ke depan. Adapun pemanasan global yang disebabkan emisi gas karbondioksida (CO2) yang berasal dari berbagai aktivitas–semisal pembakaran bahan bakar mobil, pabrik, dan stasiun pembangkit–telah menjadi ancaman sehari-hari.
Emisi gas
Meningkatnya emisi gas CO2 atau efek rumah kaca telah merugikan karang akibat meningkatnya temperatur. Kenaikan jumlah CO2 yang dirasakan air laut membuat jumlah karang yang dapat mengeras karena kapur atau tengah membentuk terumbu menurun. Sebab itu, para peneliti yang tergabung dalam Global Coral Reef Monitoring Network mengusulkan pengurangan emisi gas CO2 dan efek rumah kaca lainnya untuk menyelamatkan terumbu.
Langkah lain yang diajukan, menurut kepala program laut WWF Simon Cripps, antara lain memberi perlindungan terhadap persediaan ikan peliharaan; memberi perlindungan dengan menentukan wilayah konservasi; dan melatih populasi lokal soal pentingnya nilai cagar alam. yandhrie arvian/bloomberg/reuters/wikipedia












Tinggalkan Balasan