Sick Bulding Syndrome
Di kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya, tingkat polusinya memang tinggi. Hal itu sudah merupakan rahasia umum yang kita semua mengetahuinya. Namun tahukah anda bahwa di dalam ruangan pun kita dapat terpapar polusi?
Polusi udara dalam ruangan menjadi masalah kesehatan yang lebih serius karena rata-rata kita menghabiskan 75 % dari waktu kita di dalam ruangan. Berbagai macam polutan udara dalam ruangan diantaranya adalah gas radon, formaldehid, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan asbetos. Bahan-bahan ini berperan besar dalam menimbulkan sick bulding syndrome dan dapat menyebabkan penyakit yang dikenal sebagai multiple chemical sensitivities.
Radon adalah gas radiokatif yang tidak tampak, tidak berbau dan tidak berasa yang naik ke bumi dari proses peluruhan alami uranium yang terdapat pada hampir semua tanah dan bebatuan. Di luar ruangan, radon terdapat dalam konsentrasi rendah. Namun apabila ada di ruangan tertutup, radon dapat tertimbun hingga mencapai kadar yang membahayakan.
Radon menyebabkan kanker paru-paru, apabila kita terpapar olehnya dalam jumlah besar. Lalu bagaimana kita dapat mengurangi resiko terpapar radon? Pertama, jika anda merokok, STOP!!!Larang orang lain merokok di rumah anda. Kedua, kurangi waktu di tempat dimana konsentrasi radon tinggi seperti di basement. Lalu, bukalah semua jendela dan nyalakan kipas angin untuk melancarkan aliran udara ke dalam dan ke luar ruangan.
Polutan udara yang kedua adalah formaldehid. Formaldehid adalah suatu bahan kimia industri yang penting dan digunakan untuk membuat bahan kimia lain, bahan bangunan, dan produk-produk rumah tangga. Sama seperti radon, pembentukan gas formaldehid di dalam ruangan menimbulkan masalah yang lebih besar dibandingkan dengan yang terbentuk di luar ruangan. Formaldehid mempengaruhi orang secara berbeda-beda. Ada sebagian orang yang sangat peka terhadap formaldehid pada kadar yang mungkin tidak terasa oleh orang lain.
Lalu, barang-barang apa saja yang menimbulkan polusi formaldehid dalam ruangan? Kain yang dilabel “permanant press”, “jangan disetrika”, “bebas kerut” seperti seprai dan sarung bantal adalah beberapa contoh barang yang diolah dengan formaldehid. Barang-barang tersebut mengeluarkan formaldehid dalam jangka waktu yang lama. Formaldehid yang dikeluarkan oleh serat katun/serat sintetis tersebut akan terhirup akibat keberadaan kita yang sehari-hari dekat dengan seprai dan bantal.
Barang-barang lain yang menggunakan formaldehid dalam proses pembentukannya adalah kemasan susu, uang kertas, koran, parfum, shampo, lipstik, pasta gigi untuk gigi senditif, pewangi ruangan, penyegar udara, palarut, obat-obatan sperti dekongestan hidung, pelarut, fungisida, pestisida, disinfektan, bahan anti jamur serta kokain.
Gejala yang timbul akibat terpapar formaldehid adalah iritasi mata, hidung, dan tenggorokan. Dapat juga timbul keluhan pernapasan, termasuk sakit tenggorokan, iritas hidung seperti pilek dan mimisan. Gejala lain seperti keadaan terus menerus mengantuk, sakit kepala, penurunan daya ingat, depresi, mual, diare, sakit telinga, dan alergi. Gejala akibat terpapar formaldehid mungkin sama dengan yang ditimbulkan oleh flu.
Efek jangka panjang terhadap kesehatan adalah terganggunya indera penciuman, atau alergi serta penyakit pernapasan kronis. Formaldehid menggangu sistem pertahanan saluran pernapasan bagian atas. Penelitian yang dilakukan oleh National Academy of Science (NAS), diperkirakan bahwa 20% dari penduduk Amerika Serikat alergi terhadap formaldehid, bahkan pada kadar udara yang sangat rendah.
Untuk mengurangi kadar formaldehid di dalam rumah memang agak sulit. Yang paling mudah adalah membuka pintu dan jendela. Kedua adalah mengeluarkan benda-benda yang menghasilkan formaldehid seperti karpet. Yang agak sulit diterapkan disini adalah mengganti furniture dengan logam, benda plastik dengan kaca, dan kain yang diolah dengan tidak diolah.
Mengenai pewangi, terutama parfum, dilaporkan oleh NAS bahwa 95 % bahan kimia dalam pewangi berasal dari turunan benzena, aldehid, dan banyak toksin. Benzil klorida yang digunakan dalam pembuatan parfum merupakan suatu depresan yang dapat mengganggu fungsi susunan saraf pusat dan merupakan iritan kuat bagi mata dan selaput lendir.
Berkaitan dengan pewangi tersebut, banyak acara-acara yang mengharuskan pesertanya untuk tidak menggunakan pewangi demi kesehatan dan kenyamanan. Beberapa ruang publik mengaharuskan seseorang untuk datang tanapa menggunakan parfum. Beberapa restoran mewah mengklaim bahwa parfum mengganggu kenikmatan citarasa anggur dan hidangan. Salah satu gedung yang mengumumkan dirinya sebagai lingkungan bebas parfum adalah Brigham and Woman Hospital di Boston, Massachusetts, USA.
Pewangi memang sudah digunakan sejak jaman dahulu. Secara historis, pewangi dihasilkan dari bunga dan minyak essensial yang pada saat ini jarang sekali digunakan karena mahal harganya. Bahan-bahan tradisional tersebut hanya menyusun 4 % dari pewangi yang saat ini digunakan.
Jadi, belum tentu anda bebas dari polusi di kantor dan rumah, kan?
(Dikutip dari buku “Udara dan Kesehatan Anda”, karangan Beatrice Trum Hunter, judul asli “Air and Your Health”, diterbitkan oleh PT Bhuana Ilmu Populer, Gramedia Grup)












Tinggalkan Balasan