GLOBAL SECURITY WARNING FOR GLOBAL WARMING
Isu global warming sudah akrab di telinga kita dan kalau kita mau mengakui sebenarnya isu itu sudah kita dengan bertahun-tahun yang lalu, tetapi yan terjadi sampai saat ini adalah pengingkaran atas kondisi kritis bumi kita. Padahal menurut penelitian beberapa ilmuwan, bumi kita sudah sakit. Kutub mencair, pemanasan di berbagai belahan dunia dan iklim tidak stabil sehingga menimbulkan berbagai bencana alam.
Konsep politik biosfer mengetengahkan bahwa keamanan negara bukan hanya ditentukan oleh masing-masing negara yang berusaha memperkuat dirinya tetapi pada pemeliharaan bersama bumi ini, sayangnya konsep ini dianggap konsep pinggiran yag belum sepenuhnya dapat diterima. Saat ini konsep negara, yang baik disadari maupun tidak, masih mengagung-agungkan power, membuat banyak negara berlomba-lomba sekuat tenaga untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya agar keamanan dirinya terjamin di masa yang akan datang dan mengukuhkan posisinya di kancah politik dunia (disebut sebagai geopolitik).
Pertahanan dan keamanan nasional hanya diartikan secara sempit yang menekankan pada ancaman yang bersifat fisik, serangan persenjatan/tidak bersenjata sehingga formula yang ditawarkanpun tidak jauh dari militer, peningkatan angkatan bersenjata agar lebih efektif, melakukan pertahanan sipil, menggunakan jasa inteligen untuk mendeteksi dan mengalahkan atau mencegah ancaman dan espionase, dan melindungi informasi rahasia negara. Selain itu juga dibentuknya sistem pertahanan baru dan juga pembaharuan struktur dan strategi organisasi lembaga pertahanan dan militer.
Global warming diharapkan dapat mengubah paradigma kebablasan yang ada, sudah saatnya international maupun national security bukan hanya terletak pada kemandirian masing-masing negara, tetapi melalui kerjasama untuk memelihara bumi. National security tidak melulu soal keamanan dari serangan negara lain secara fisik sehingga diantisipasi dengan mendirikan pangkalan militer yang kuat dan hebat, senjata perang yang super canggih, serta berusaha semaksimal mungkin berlomba-lomba menciptakan tehnologi yang mumpuni sebagai bentuk sikap defensive terhadap bangsa lain (ataukah offensive??). Setiap Negara secara naluriah seolah-olah dituntut untuk selalu usil “mengintip” aktivitas negara lain.
Padahal national security tidak hanya diukur dari segi pertahanan keamanan secara militer dan pertahanan konvensional lainnya, tetapi banyak hal termasuk di dalamnya masalah lingkungan. Permasalahan lingkungan yang semakin kompleks dan implikasi yang besar memaksa setiap negara untuk bertindak sigap terhadap berbagai bencana alam yang akibatkan eksploitasi alam yang terlalu berlebihan. Tanah longsor, banjir, badai, gunung meletus telah menjadi fenomena alam yang menakutkan dan ganas. Sampai-sampai negara adi daya seperti Amerika pun tidak luput dari bencana ini. Sebagian besar negara menjadi panik akan musibah yang terus menerus terjadi.
Karena itu paradigma realis dalam national security perlu sedikit bergeser. Perlu pemahaman yang lebih bahwa national security juga meliputi ancaman environment. Global warming seharusnya bisa disikapi dengan lebih bijaksana oleh setiap negara sebagai ancaman yang bukan main-main lagi. Perlunya menempatkan ancaman global warming setara dengan ketakutan kita bila Australia membeli persenjataan dan baru, Malaysia menambah jumlah tentaranya, dan Filipina membeli rudal maupun Korea Utara yang mengembangkan nuklir.
Akibat pemanasan global, beberapa daerah dengan iklim yang hangat akan menerima curah hujan yang lebih tinggi, tetapi tanah juga akan lebih cepat kering. Kekeringan tanah ini akan merusak tanaman bahkan menghancurkan suplai makanan di beberapa tempat di dunia. Hewan dan tanaman akan bermigrasi ke arah kutub yang lebih dingin dan spesies yang tidak mampu berpindah akan musnah.
Iklim dan cuaca yang sudah tidak mampu lagi diprediksi keberadaannya menjadikan sebagian besar lahan pertanian produktif tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan pangan rakyat negeri ini. Banjir dan kekeringan telah menghadirkan kegagalan panen. Petani semakin terpuruk diantara relung keterpurukan negeri saat ini.
Pemanasan global juga turut mempengaruhi peningkatan magnitude dan frekuensi kehadiran El Nino, yang memicu semakin besarnya kebakaran hutan. Inilah yang terjadi di Indonesia pada 1987, 1991, 1994, dan 1997/1998. Kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan pada 1997/1998 saja, menurut Konsorsium Nasional untuk Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia, mencapai US$ 8.855, termasuk di dalamnya kerugian sektor perkebunan (berdasarkan luas area lahan yang terbakar) US$ 319 juta dan kerugian sektor tanaman pangan (berdasarkan penurunan produksi beras) mencapai US$ 2.400 juta. Melihat berbagai realitas di atas, tidak salah jika Intergovernmental Panel on Climate Change dalam laporan yang berjudul “Climate Change Impacts, Adaptation and Vulnerability” pada 6 April 2007 menyimpulkan perubahan iklim semakin mengancam produksi pangan Indonesia.
Sangat mengerikan bukan? oleh karena itu masihkan kita beranggapan bahwa global warming dan serentetan dampaknya terhadap Indonesia tidak lebih penting daripada pertahanan militer dari serangan dan ancaman negara lain?? semoga tidak.












global warming mestinya mendapat perhatian serius oleh semua kalangan masyarakat Indonesia. Setelah mengikuti seminar End of Days bertema “Dampak Pemanasan Global”yang diselenggarakan oleh GII HOK IM TONG Makassar (9/8/2008), hati saya bener2 miris dengan keadaan bumi sekarang. YA, masih ada kesempatan bagi kita untuk mengatasinya. Mari, hargailah bumi dan isinya ini. TUHAN sudah memberi kita tugas untuk menjaga, memelihara, dan mengolah alam dan isinya dengan bijaksana (Kejadian 1-2). Mintalah hikmat kepada-Nya, agar apa yang kita kerjakan dan lakukan untuk bumi di mana kita berpijak, benar-benar berkenan di hadapan-Nya.
Jangan berleha-leha, mulailah dari diri kita sendiri dulu. Sangat mengerikan jika akibat mematikan Global Warming itu sampai menjadi kenyataan.